24 yang ke-31

24 kali ini adalah 24 ke-31,

serta 24 yang terakhir.

Aku memutuskan untuk berhenti menghitung 24 demi 24,

menunggu kepulanganmu.

Aku memutuskan untuk tidak kembali pada segala hal yang pernah terjadi

pada 24-24 yang sudah-sudah.

Biarkan kulepas semua itu,

Walau sempat ada harapan yang ternyata hanya angan.

Biar kau bahagia dengan jalanmu,

dan aku dengan jalanku.

Biar semua penyesalan itu pergi,

sehingga tak dapat membelengguku lagi pada 24-24 berikutnya.

Biarlah 24 yang ke-32, ke-33, hingga keseribu kalinya,

terasa seperti hari-hari lainnya.

Dan izinkan aku, pada 24 yang ke-20 tahun ini,

memulai cerita baru,

menemukan angka baru dan kenangan baru,

dimana aku akan tinggal didalamnya,

selamanya.

Dalam Sebuah Perjalanan (4)

Selang waktu berjalan, derap langkahnya tetap terdengar.

Ia tetap maju ke depan,

Namun bukan untuk mengejar sang permata.

 

Permata itu kini telah dimiliki seorang pengembara,

Seorang yang tangguh dan dewasa.

Pengembara ini pun telah melewati fase demi fase dalam perjalanannya,

hingga akhirnya menemukan perhentian pada permata itu.

 

Ia pun tersadar, perjalanan ini bukan hanya tentang dirinya.

Jalan menuju permata itu tidak hanya satu,

bukan hanya jalan setapak yang dilaluinya.

Banyak pengembara lain, berjalan di atas jalannya masing-masing,

melewati rintangannya masing-masing,

menyembuhkan berbagai macam luka yang dialaminya.

Permata itu mungkin tujuan mereka,

mungkin juga pemberhentian sementara mereka,

mungkin takdir mereka,

atau mungkin mereka takkan dipertemukan dengan permata itu.

 

Mungkin permata itu adalah alasan mengapa ia memulai perjalanan ini,

Namun suratan takdir bukan menjadi alasan untuk mengakhiri perjalanan ini.

Biar permata itu menjadi milik pengembara lain,

Entah sementara,

atau selamanya.

Ia tetap melangkah, mengikuti arah mata angin,

menentukan tujuan yang baru.

 

Entah apa kata takdir,

tak ada yang tahu.

Ia siap menghadapi rintangan-rintangan dan luka-luka berikutnya,

untuk sesuatu yang telah ditakdirkan di akhir perjalanannya.

Perjumpaan Dalam Nada

Setelah bertahun-tahun terpisah dari jiwa kecilku yang perkasa,

Kau hadir kembali.

Masih dalam suasana yang sama,

Penuh dengan melodi-melodi yang harmoni.

 

Dulu, dalam kumpulan perangkai nada dalam harmoni,

Akulah pelindungmu.

Menitimu dalam setiap nada,

Dalam tempo yang terus berpacu,

Setiap alunan nada merajut kasih,

Hingga sampai di penghujung lagu.

 

Dan disinilah kita berjumpa kembali,

Berdua terduduk di bangku panjang,

Menyaksikan sang surya tenggelam di tengah hiruk-pikuk ibukota.

Semua pun terasa berbeda.

Kini kita dapat berdiri sendiri, menciptakan nada dalam nadi yang mengalir dalam darah masing-masing.

Panggilan Tuhan menundukkan wajahmu dan wajahku,

Membawa kita dalam birama kesunyian.

 

Kau tanyakan kabarku,

Tentang nada-nada yang selalu kita nyanyikan,

Ku tanyakan kabarmu,

Tentang berapa banyak birama yang kau lalui untuk merengkuh semua nada-nada.

 

Masing-masing dari kita sebenarnya terdetak jantungnya,

Masing-masing dari kita

Sebenarnya

Ingin menanyakan rasa yang terselip

Dalam birama yang terlewati itu

Diantara

Alunan nada itu

Diantara

Rajutan kasih itu.

 

Masih tentang sebuah birama yang selalu ingin kita lewati kembali,

Nada-nada yang selalu ingin dirajut kembali,

Namun tak ada tanda untuk kembali.

Manusia Malaikat: Kesempatan Kedua

Ya. Hingga saat ini pun, sosok ini belum bisa hilang dari sanubariku.

 

Aku tetap merahasiakannya dari siapapun, aku tetap menunggu, tetap sambil berjalan sesuai dengan jalan takdirku: yang kukira semua sudah berakhir.

Hingga hari itu tiba.

Tuhan mempertemukan kami kembali dalam sebuah perjalanan menuju dunia yang luas, yang akan saling terhubung satu sama lain dalam arus globalisasi.

Aku terdiam. Dalam hati aku merenungkan kesempatan ini. Aku mengendalikan hatiku. Dadaku sedikit sesak, mataku berbinar. Tanpa sadar aku berlarian menyusuri jalur pedestrian, ada semangat mengaliri seluruh tubuhku. Beberapa lembar kertas yang kubawa pun melambai terhembus angin, terbawa dalam setiap langkah lariku, siap untuk dibawakan pada manusia malaikat itu.

Mulai saat itu, dalam setiap sujudku, aku merenungkan kejadian ini. Ini kejadian yang sama seperti empat tahun lalu di Benua Biru, seperti satu tahun lalu di dataran tinggi di timur Jawa. Apakah Tuhan memberi satu kesempatan lagi untuk memutuskan, apakah jalan ini harus berakhir atau berlanjut?

Apakah ini kesempatan kedua bagiku?

Singkat cerita, semua telah kami lalui. Namun pada saat-saat terakhir, aku masih bimbang.

Aku menyimpan lama perasaan ini, bertahun-tahun lamanya.

Semakin lama, sentuhan malaikat itu semakin menjauh.

Apakah aku harus benar-benar mengakhirinya?

Ataukah ini sebagai kesempatan kedua?

 

Aku tertunduk lesu, berjalan dengan kaki yang telah letih, dengan kantung mata yang semakin menghitam.

Ini bukan hanya soal mengejar permata.

Ini bukan hanya soal berakhirnya sebuah perjalanan.

Ini soal cinta.

 

Aku yakin, selama ini aku jatuh cinta.

Peringatan

Hari ini, aku benar-benar terpukul atas suatu kejadian yang benar-benar nyata.

Tidak pernah sekalipun aku meminta Allah membalas perbuatannya kepadaku, walau sedikit saja salahnya padaku. Sungguh tidak pernah ada doa, harapan, maupun maaf dariku atas kesahalan yang ia perbuat. Aku hanya membiarkannya seperti angin lalu. Ya, aku memang tidak memberinya maaf, namun aku melupakan rasa dendam itu dan melanjutkan hidup.

Namun ternyata benar adanya, peringatan Allah sungguh benar-benar nyata, suatu kejadian menimpanya, dan seperti direncanakan untuk terjadi tepat di depan mataku.

Aku menyebut nama-Nya berulang-ulang, Subhanallah, ini pasti peringatan yang Ia tunjukkan padaku, agar aku dapat mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Aku pun membuka firmanNya:

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Lukman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

Wallahu’alam. Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Kagum Atas Cinta

Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang kurasa.

Dunia seperti mencobaiku atas sebuah hati.

Sebut saja, aku telah menjatuhkan hati untuk sebuah nama,

Dia pun telah melabuhkan hatinya pada satu nama,

Gadis itu pun telah mengukir sebentuk nama dalam hatinya.

 

Aku hanya mengaguminya, dan tidak lebih dari itu.

Namun dunia mendekatkanku,

Lebih dekat, lebih dekat lagi,

Hingga kagumku ini semakin memuncak.

 

Ia pun hanya mengagumi gadis itu.

Namun dunia mendekatkan mereka,

Lebih dekat, lebih dekat lagi.

 

Entah apa yang telah merasuki diriku dan dirinya,

Rasa kagum ini membunuhku,

Membunuhnya,

Membunuh gadis itu.

 

Apakah Tuhan sedang mencobai persahabatan?

Apakah Tuhan sedang berusaha membalik kesetiaan hati?

Apakah Tuhan sedang menanam benih-benih cinta atas kagum ini?

Harapan

Banyak orang bilang, waktu memang tak bisa terulang, namun lembaran baru selalu siap untuk terbuka kembali, menumbuhkan harapan-harapan baru.

Aku meragu. Setiap lembaran baru itu selalu menorehkan tinta yang sama, kisah yang sama, titik dan koma yang sama.

Sampai kemudian aku berhenti membuka lembaran-lembaran dan harapan-harapan itu, menutup buku itu untuk sementara.

Bukan ini yang kuinginkan.

Aku hanya ingin memperbaiki lagi hidupku yang rusak, menyambung kembali yang telah putus, menyatukan setiap kolase hati yang remuk.

Telah ku berusaha untuk memperbaiki kembali semuanya,

Sampai kusadari akhirnya,

Bahwa tak semua yang rusak dapat diperbaiki,

Bahwa tak semua yang putus dapat disambung,

Bahwa tak semua yang remuk dapat disatukan kembali,

Pun waktu takkan pernah kembali.

Aku kembali, membuka lembaran-lembaran baru itu.

Aku mengerti,

Apa yang mereka katakan soal harapan-harapan baru, adalah bagi mereka yang mau memulai sesuatu yang baru.

Kutorehkan kisah-kisah yang baru, tinta yang baru, titik dan koma yang baru.

Lembaran-lembaran hidupku kini benar-benar menumbuhkan harapan baru, atas sesuatu yang baru, tanpa setitik pun noktah hitam di masa lalu.

Kini aku percaya, harapan itu pun juga tumbuh dalam hatiku,

Atas masa lalu yang telah mati.