Variabel Pertama (2)

Setelah semua yang kita lalui,

Maafkan aku,

kali ini

aku membencimu.

 

Aku yang selalu ada saat kau butuh,

dan selalu menghilang saat ku butuh.

 

Aku yang selalu membelamu

lebih dari siapapun,

selalu berdiri melawan orang-orang yang menyakitimu,

membenci mereka yang meremehkanmu,

namun kau selalu saja

tak menganggapku ada,

kau samakan perlakuanku

dengan bunga-bunga lain di luar sana.

 

Dengan mudahnya kau berkata

ingin memetik bunga lain di luar sana,

setelah semua manis madu yang kuberi untukmu.

 

Dengan mudahnya,

kau terbang menjauh,

meninggalkanku

s e n d i r i

membawa semua yang kupunya,

dan kau masih

t e r s e n y u m.

Variabel Pertama

Variabel pertama,

seorang yang pertama kali kutemui

seusai patah hatiku yang pertama.

Ia penuh cinta,

penuh perhatian,

dan penuh dengan sentuhan.

Aku selalu bermimpi untuk bisa bersamanya,

namun bermimpi bersamanya

tak ayal hanyalah seperti

mendamba pelangi tanpa hujan

merindu bulan di naungan angkasa.

 

Ia datang saat tak didamba,

pergi saat dirindu,

dekat saat berlari,

jauh saat dikejar.

 

Dan saat variabel ini berusaha kusingkirkan,

ia semakin mendekat,

melekat,

memberi tanda demi tanda

Ia tak ingin terhapuskan

namun harus kutanggung

derita dalam diamku

agar ia tetap disini.

 

Kata demi kata

menyakitiku

Laku demi laku

membuaiku

 

Musim demi musim

tak tentu kapan kau datang dan pergi,

bentengku selalu menahan

segala curahan asa

dan rasa.

 

Entah kapan waktu ‘kan berakhir,

Hati ini selalu mendamba

curahan rasa padanya

Curahan cinta darinya

tanpa perlu lagi

mengejar

atau

menahan dalam diam

agar kau selalu disini.

Antara Dua Variabel

Semesta terdiri dari banyak kemungkinan variabel yang dapat kualami, namun semesta memilihku untuk terjebak di antara dua variabel pilihannya.

Semesta telah menunjukkanku tentang masing-masing variabel, dan aku telah meletakkannya pada sebuah hati, pilihan variabel yang tetap kujaga.

Namun, perasaan ini menyiksaku.

Aku masih ingin tetap menjaga keduanya, di sisi lain pun sulit untuk menjaga keduanya.

Tiga tahun aku menanti, aku hanya berpindah dari satu variabel ke variabel lainnya, tanpa menghapus keduanya dari sisiku.

Tiga tahun aku menanti pun, tak ada kesempatan bagiku untuk tetap berada dalam satu variabel, karena keduanya pun berpindah-pindah variabel lain.

Bila semesta menghendaki,

aku ingin semesta mengurai benang yang rumit ini,

hingga ujung bertemu dengan ujung,

dan variabel ini akan menemukan ujungnya,

selamanya.

Segitiga

Terimakasih,

untuknya

membuatku tenggelam dalam imaji

indahnya mencintai.

 

Terimakasih,

untukmu

yang pernah menggenggamku

dalam posesimu,

membuatku merasakan imaji

indahnya dicinta

olehnya.

Waktu

Waktu,

demi waktu,

Menggiringku menujumu

Selalu

Walau hati ingin lari

Atas nama waktu.

 

Sepenuh diri

Ku sadar, bahwa

Waktu demi waktu

Terus bergulir

Musim demi musim

Menuju akhir

Menuju hilir perpisahan.

 

Di bawah rinai hujan,

Kuputuskan

Mengikuti apa mau waktu.

Detik

demi detik

Kuselami

Bersamamu.

 

Dan atas nama waktu,

Akan kuserahkan dengan sukarela

Sisa waktu yang ada

Hanya untuk

Bersamamu.

24 yang ke-31

24 kali ini adalah 24 ke-31,

serta 24 yang terakhir.

Aku memutuskan untuk berhenti menghitung 24 demi 24,

menunggu kepulanganmu.

Aku memutuskan untuk tidak kembali pada segala hal yang pernah terjadi

pada 24-24 yang sudah-sudah.

Biarkan kulepas semua itu,

Walau sempat ada harapan yang ternyata hanya angan.

Biar kau bahagia dengan jalanmu,

dan aku dengan jalanku.

Biar semua penyesalan itu pergi,

sehingga tak dapat membelengguku lagi pada 24-24 berikutnya.

Biarlah 24 yang ke-32, ke-33, hingga keseribu kalinya,

terasa seperti hari-hari lainnya.

Dan izinkan aku, pada 24 yang ke-20 tahun ini,

memulai cerita baru,

menemukan angka baru dan kenangan baru,

dimana aku akan tinggal didalamnya,

selamanya.

Dalam Sebuah Perjalanan (4)

Selang waktu berjalan, derap langkahnya tetap terdengar.

Ia tetap maju ke depan,

Namun bukan untuk mengejar sang permata.

 

Permata itu kini telah dimiliki seorang pengembara,

Seorang yang tangguh dan dewasa.

Pengembara ini pun telah melewati fase demi fase dalam perjalanannya,

hingga akhirnya menemukan perhentian pada permata itu.

 

Ia pun tersadar, perjalanan ini bukan hanya tentang dirinya.

Jalan menuju permata itu tidak hanya satu,

bukan hanya jalan setapak yang dilaluinya.

Banyak pengembara lain, berjalan di atas jalannya masing-masing,

melewati rintangannya masing-masing,

menyembuhkan berbagai macam luka yang dialaminya.

Permata itu mungkin tujuan mereka,

mungkin juga pemberhentian sementara mereka,

mungkin takdir mereka,

atau mungkin mereka takkan dipertemukan dengan permata itu.

 

Mungkin permata itu adalah alasan mengapa ia memulai perjalanan ini,

Namun suratan takdir bukan menjadi alasan untuk mengakhiri perjalanan ini.

Biar permata itu menjadi milik pengembara lain,

Entah sementara,

atau selamanya.

Ia tetap melangkah, mengikuti arah mata angin,

menentukan tujuan yang baru.

 

Entah apa kata takdir,

tak ada yang tahu.

Ia siap menghadapi rintangan-rintangan dan luka-luka berikutnya,

untuk sesuatu yang telah ditakdirkan di akhir perjalanannya.