Variabel Pertama (3)

Aku pernah membencimu,

namun kini

Aku tak tahu lagi

sejak kita lalui malam itu.

 

Aku tak tahu apa yang kumau darimu.

Aku pernah ingin cintamu,

Aku pun pernah inginkan sedihmu,

namun kini aku juga ingin

bahagiamu,

jarakmu,

sekaligus kecewamu.

 

Kucoba mengecewakanmu malam itu,

Saat kau mencoba kembali

menarikku dalam salah satu sekat waktumu.

Kau berkata,

“Aku tak bisa melakukannya tanpamu.

Maukah kau membantuku sekali lagi?”

Seolah aku hanya perkakas yang lama tersimpan dalam gudangmu,

lalu kau membutuhkannya kembali,

saat tak ada lagi alat yang dapat berfungsi untukmu.

 

Aku ingin menolaknya mentah-mentah,

namun aku mempermainkanmu.

Kuberi kau jawaban abu-abu,

lengkap dengan egoku.

 

Ternyata

Kau turuti egoku,

dan kau ulurkan tanganmu

untuk memenuhi egoku itu.

Aku terpaku,

kemudian sejenak

kugenggam uluran tanganmu.

Ternyata,

Kau benar-benar

tak bisa tanpaku.

 

Kemudian,

Aku melihatmu kecewa oleh mereka,

orang-orang lain yang akan kau hadapi bersamaku.

 

Kecewamu itu,

kemudian memberi bekas luka pada hatiku.

Padahal kecewamu,

adalah sesuatu yang selalu kunanti.

 

Dan disinilah aku,

Menyesali malam itu.

 

Kini aku tak tahu lagi,

Apa yang kucari darimu.

Entah itu bahagiamu,

sedihmu,

kecewamu,

atau tanganmu yang kau ulurkan demi egoku itu.

Aku tak tahu lagi,

sejak malam itu.

Advertisements

Variabel Pertama (2)

Setelah semua yang kita lalui,

Maafkan aku,

kali ini

aku membencimu.

 

Aku yang selalu ada saat kau butuh,

dan selalu menghilang saat ku butuh.

 

Aku yang selalu membelamu

lebih dari siapapun,

selalu berdiri melawan orang-orang yang menyakitimu,

membenci mereka yang meremehkanmu,

namun kau selalu saja

tak menganggapku ada,

kau samakan perlakuanku

dengan bunga-bunga lain di luar sana.

 

Dengan mudahnya kau berkata

ingin memetik bunga lain di luar sana,

setelah semua manis madu yang kuberi untukmu.

 

Dengan mudahnya,

kau terbang menjauh,

meninggalkanku

s e n d i r i

membawa semua yang kupunya,

dan kau masih

t e r s e n y u m.

Variabel Pertama

Variabel pertama,

seorang yang pertama kali kutemui

seusai patah hatiku yang pertama.

Ia penuh cinta,

penuh perhatian,

dan penuh dengan sentuhan.

Aku selalu bermimpi untuk bisa bersamanya,

namun bermimpi bersamanya

tak ayal hanyalah seperti

mendamba pelangi tanpa hujan

merindu bulan di naungan angkasa.

 

Ia datang saat tak didamba,

pergi saat dirindu,

dekat saat berlari,

jauh saat dikejar.

 

Dan saat variabel ini berusaha kusingkirkan,

ia semakin mendekat,

melekat,

memberi tanda demi tanda

Ia tak ingin terhapuskan

namun harus kutanggung

derita dalam diamku

agar ia tetap disini.

 

Kata demi kata

menyakitiku

Laku demi laku

membuaiku

 

Musim demi musim

tak tentu kapan kau datang dan pergi,

bentengku selalu menahan

segala curahan asa

dan rasa.

 

Entah kapan waktu ‘kan berakhir,

Hati ini selalu mendamba

curahan rasa padanya

Curahan cinta darinya

tanpa perlu lagi

mengejar

atau

menahan dalam diam

agar kau selalu disini.

Antara Dua Variabel

Semesta terdiri dari banyak kemungkinan variabel yang dapat kualami, namun semesta memilihku untuk terjebak di antara dua variabel pilihannya.

Semesta telah menunjukkanku tentang masing-masing variabel, dan aku telah meletakkannya pada sebuah hati, pilihan variabel yang tetap kujaga.

Namun, perasaan ini menyiksaku.

Aku masih ingin tetap menjaga keduanya, di sisi lain pun sulit untuk menjaga keduanya.

Tiga tahun aku menanti, aku hanya berpindah dari satu variabel ke variabel lainnya, tanpa menghapus keduanya dari sisiku.

Tiga tahun aku menanti pun, tak ada kesempatan bagiku untuk tetap berada dalam satu variabel, karena keduanya pun berpindah-pindah variabel lain.

Bila semesta menghendaki,

aku ingin semesta mengurai benang yang rumit ini,

hingga ujung bertemu dengan ujung,

dan variabel ini akan menemukan ujungnya,

selamanya.

Segitiga

Terimakasih,

untuknya

membuatku tenggelam dalam imaji

indahnya mencintai.

 

Terimakasih,

untukmu

yang pernah menggenggamku

dalam posesimu,

membuatku merasakan imaji

indahnya dicinta

olehnya.

Waktu

Waktu,

demi waktu,

Menggiringku menujumu

Selalu

Walau hati ingin lari

Atas nama waktu.

 

Sepenuh diri

Ku sadar, bahwa

Waktu demi waktu

Terus bergulir

Musim demi musim

Menuju akhir

Menuju hilir perpisahan.

 

Di bawah rinai hujan,

Kuputuskan

Mengikuti apa mau waktu.

Detik

demi detik

Kuselami

Bersamamu.

 

Dan atas nama waktu,

Akan kuserahkan dengan sukarela

Sisa waktu yang ada

Hanya untuk

Bersamamu.

24 yang ke-31

24 kali ini adalah 24 ke-31,

serta 24 yang terakhir.

Aku memutuskan untuk berhenti menghitung 24 demi 24,

menunggu kepulanganmu.

Aku memutuskan untuk tidak kembali pada segala hal yang pernah terjadi

pada 24-24 yang sudah-sudah.

Biarkan kulepas semua itu,

Walau sempat ada harapan yang ternyata hanya angan.

Biar kau bahagia dengan jalanmu,

dan aku dengan jalanku.

Biar semua penyesalan itu pergi,

sehingga tak dapat membelengguku lagi pada 24-24 berikutnya.

Biarlah 24 yang ke-32, ke-33, hingga keseribu kalinya,

terasa seperti hari-hari lainnya.

Dan izinkan aku, pada 24 yang ke-20 tahun ini,

memulai cerita baru,

menemukan angka baru dan kenangan baru,

dimana aku akan tinggal didalamnya,

selamanya.